Review Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero, You Can Still Be Kind Without Abandoning Yourself
Oktober 29, 2026 Dear Bloggies,
Berbeda dengan 2 buku sebelumnya, buku ini mungkin terasa spesial bagi saya karena ketika pertama kali membeli buku ini, saya tidak pernah menyangka bahwa isinya akan sangat, sangat menampol diri ini.
Ternyata, pengalaman masa kecil, terutama hubungan kita dengan orang tua, bisa terus hidup dalam diri kita bahkan setelah kita tumbuh dewasa. Seseorang yang tumbuh dengan kritik dan tuntutan mungkin tanpa sadar membawa pola yang sama hingga dewasa. Salah satu pembahasan yang menarik perhatian saya adalah mengenai inner parent, istilah yang sebelumnya bahkan cukup asing bagiku.
dr. Andreas menjelaskan konsep dari Eric Berne yang membagi parent ego state menjadi dua, yaitu critical parent dan nurturing parent. Ketika seseorang tumbuh bersama orang tua yang sering mengkritik atau menyalahkan, suara-suara tersebut bisa ikut tumbuh bersamanya. Akhirnya, bahkan ketika sudah dewasa, kita tanpa sadar bisa menjadi critical parent bagi diri sendiri.
Kita menjadi orang yang paling keras mengkritik diri sendiri, bahkan ketika sebenarnya kita sudah berusaha sebaik mungkin.
Selain itu, ada satu pembahasan yang menjadi highlight bagi saya, yaitu tentang bagaimana membangun boundaries, terutama untuk saya yang sudah lama menjadi seorang people pleaser. Ada satu kalimat yang benar-benar MAKJLEB ketika membacanya:
“Jangan bakar dirimu untuk membuat orang lain menjadi hangat.”
Sederhana, tetapi cukup membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana selama ini saya memperlakukan diri sendiri demi menyenangkan orang lain. Bahkan di agama Islam pun kita diajarkan untuk tidak menjadi lilin bagi orang lain, untuk tidak merusak diri sendiri demi memberi manfaat bagi orang lain. Putting myself first.
Menariknya, meskipun buku ini mengajarkanku untuk LEBIH BERANI mengatakan TIDAK, bukan berarti kita kemudian harus berhenti menjadi orang baik.
dr. Andreas justru membedakan antara healthy giver dan self-sacrificing giver. Kita masih boleh membantu, peduli, dan memberi kepada orang lain, tetapi tanpa harus kehilangan diri sendiri dalam prosesnya. Saya juga akhirnya memahami bahwa boundaries bukanlah tembok yang memisahkan kita dari orang lain, melainkan seperti pintu dan jendela yang kuncinya berada di tangan kita sendiri.
Kita yang menentukan kapan ingin membuka pintu, kapan membiarkan seseorang mendekat, dan kapan kita perlu mengambil jarak. Karena ternyata, menjaga hubungan baik dengan orang lain tidak seharusnya membuat kita mengabaikan hubungan dengan diri sendiri.
Bagi saya pribadi, buku ini bukan sekadar membahas luka masa kecil atau hubungan antara anak dan orang tua. Lebih dari itu, buku ini mengajarkan saya untuk menerima bahwa ada bagian dari diri kita yang terluka, tanpa harus membiarkan luka tersebut menentukan seluruh hidup kita.
Belajar membuat batas tanpa kehilangan kebaikan.
Belajar mengatakan tidak tanpa merasa menjadi orang jahat.
Dan yang paling penting, belajar menjadi sosok dewasa yang dulu mungkin sangat dibutuhkan oleh anak kecil dalam diri kita sendiri.
You can still be kind without abandoning yourself.
Terimakasih untuk dr. Andreas Kurniawan yang sudah menulis buku ini


0 comments